Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi

Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi

“Disrupsi yang terjadi di IT menyangkut berbagai bisnis proses di semua industri. Tidak hanya di produksi atau manufaktur, juga kepada automasi finansial.”

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat berdampak sangat luas hampir ke semua industri. Selain memberi efek positif, disrupsi pun tak terlekan, termasuk di sektor keuangan dan perbankan. Sejumlah perusahaan keuangan dunia melaporkan pemangkasan karyawan besar-besaran secara bertahap dalam beberapa tahun.

Melihat hal tersebut, BRI Institute menyiapkan lulusannya mampu menghadapi dampak disrupsi tersebut. Karena itu, walau kampus ini menyandang nama besar BRI, kurikulum yang dikembangkan tidak semata soal keuangan dan perbankan. Bahkan, separuh lebih mata kuliah yang ditawarkan terkait informasi dan teknologi (IT).

Bukan hanya imporvisasi kurikulum agar klop dengan kebutuhanan bisnis yang terus berubah, BRI Institute juga mewajibkan satu tahun magang bagi para mahasiswa untuk merasakan dunia kerja di industri. Ditemani minuman dingin segar, berikut ini wawancara lengkap dengan lelaki 58 tahun itu di salah satu sudut Perpustakaan BRI Institute yang penuh nuansa kekinian.

Pertengahan bulan lalu ada perubahan di BRI Institute menjadi kampus fintech. Apa yang melatarbelakanginya?

Kami punya enam program studi, lima di antaranya dengan platform kurikulum teknologi informasi (IT). Satu lagi terkait enterpreneurship. Dewasa ini, tidak ada satu pun industri yang tanpa tersentuh teknologi, khususnya teknologi digital. Mungkin 10-15 tahun ke depan, SDM-SDM yang seharusnya kita miliki adalah yang terbesit terhadap teknologi informasi.

Oleh karena itu, Bank BRI, dengan sejarahnya 124 tahun, memiliki data, jaringan, dan semua pengalaman dari sisi microfinance. Kami punya platform IT, memfokuskan kurikulum untuk menyiapkan para insinyur fintech.

Fintech cakupannya luas, tidak hanya berkaitan dengan bayar-membayar. Segala macam aktivitas yang berkaitan dengan transaksi finansial akan tersentuh oleh teknologi atau isu fintech, sehingga kami mencanangkan sebagai fintech university.

Apa ada paradigma baru dari kurikulum sebelumnya yang mungkin fokus ke perbankan kemudian mengkawinkannya dengan IT menjadi sebuah pengetahuan baru?

BRI Institute memang perguruan tinggi swasta yang dimiliki oleh Bank BRI, tapi kami bukan banking school. Lulusan kami bisa bekerja di perbankan atau non-bank. Yang pasti, mereka kami bekali pengetahuan dan pengalaman mengenai IT yang implementasinya di semua jenis industri.

Disrupsi yang terjadi di IT menyangkut berbagai bisnis proses di semua industri. Tidak hanya di produksi atau manufaktur, juga kepada otomasi finansial. Karena itu, kami mendesain kurikulum yang siap menghasilkan lulusan ke dunia industri yang berbau teknologi dan finansial. Kami membekali mahasiswa 60 % mengenai IT yang bisa masuk ke asuransi, keuangan, syariah, perbankan, dan sebagainya.

Dengan program perkuliahan tersebut, lulusan BRI Institute sudah siap menghadapi disrupsi, termasuk di sektor perbankan?

Untuk itu kami berkolaborasi dengan industri-industri dari fintech. Contohnya, kami sudah menandatangani kerja sama dengan Aftech (Asosiasi Fintech Indonesia). Di dalam Aftech lebih dari 300 perusahaan yang sifatnya investment. Ada yang traveling, hospitality, sampai ke industri-industri produksi lainnya.

Kami menghasilkan lulusan yang akan dimanfaatkan dalam industri tersebut. Kami mengajak mereka menjahit kurikulum, yang sesuai peraturan pendidikan tinggi hingga empat tahun. Mahasiswa kuliah tiga tahun di kami. Nanti satu tahun mereka internship di industri. Sehingga, para mahasiswa akan merasakan apa yang terjadi di industri, punya pengalaman.

Apa ini  salah satu kata kunci untuk menjawab problem lulusan kampus yang sering dikemukakan banyak pihak yakni link and match antara perguruan tinggi dan industri?

Sebenarnya, konsep link and match sudah lama di-sounding-kan kepada kami di kalangan perguruan tinggi. Barangkali kemarin industri dan perguruan tinggi punya kesibukan masing-masing sehingga tidak pernah duduk bareng mencari solusi bersama.

Industri pasti sudah tersita waktunya dengan aktivitas bisnisnya, sehingga kami yang harus merangkul, bertanya, diskusi, mengajak mereka menjahit bareng. Apalagi banyak yang mengatakan bahwa gelar sarjana belum menjadi jaminan. Itu berarti problem bersama. Mari cari solusinya. Karena pada akhirnya, kebutuhan akan kualitas lulusan, kompetensinya, yang menggunakan yaitu dunia usaha.

Di BRI Institute ada prodi yang spesifik langsung ke perbankan, syariah, mikro, insurance. Ada pula fintech pembayaran yang belum diambil. Kenapa berfokus ke sana?

Kenapa kami memilih micro finance dan sebagainya? Bank BRI punya pengalaman di situ, memiliki jaringan, data, sehingga punya kekuatan. Bank BRI tentu harus memperkuat posisi tersebut. Dengan teknologi digital, kami harus melahirkan orang-orang muda yang tahu micro finance, juga fasih terhadap IT. Maka dibentuklah IT dengan major di micro finance.

Untuk Syariah, kita tahu banyak konteks di dunia ini dan negara yang mayoritas bukan muslim mulai melirik syariah. Bukan hanya di bank syariah, juga traveling syariah, rumah sakit syariah, dan sebagainya. Pertumbuhan syariah akan terus naik.

Apalagi wakil presiden sekarang representatif kuat dari kalangan muslim. Kemungkinan besar perbankan syariah akan semakin bergaung?

Sekali lagi, kami mengklaim we are not a banking school. Syariah dalam konteks di sini adalah syariah as a islamic economic system, bukan bank syariah. Definisi syariah tidak langsung diekuivalen dengan bank syariah. Syariah bisa masuk ke berragam industri: travel, rumah sakit, hotel, pembiayaan konstruksi, produksi, dan sebagainya. Trennya menunjukkan ke sana.

Bila membandingkan dengan Tiongkok, kita agak jauh tertinggal, walaupun di sana juga mempunyai masalah, banyak yang berkembang kemudian tak sedikit yang tumbang. Menurut Anda, bagaimana perkembangan fintech di Indonesia?

Sekarang, di industri bukan lagi bicara lokasi, size dari pabrik, kemudian jumlah distributor, karyawan, armada, dan sebagainya. Karena ada teknologi digital, maka yang dilihat seberapa besar komunitas yang bisa dikembangkan dan dibangun dari industri tersebut.

Bahasa sederhananya mungkin berapa banyak followers-nya? Indonesia adalah market yang bisa diakses oleh siapa pun, dari manapun, dengan cara cepat. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, potensi industri fintech juga besar. Bukan berarti bahwa harus fintech, tapi industri tertentu yang ada sentuhan fintech-nya. Pasti akan banyak pelaku dari industri luar melirik Indonesia.

Zaman dulu, kalau barang kita belum masuk Amerika jangan berharap dunia akan tahu. Tapi hari ini, mungkin tidak mesti semua dijual di Amerika untuk masuk ke seluruh dunia. Itu sebuah kesempatan dan tantangan. Sehingga kami sebagai pelaku di bidang pendidikan merasa harus bertanggung jawab. Kami punya peran dalam menyiapkan anak mudah yang sanggup menghadapi perubahan tadi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru merumuskan 15 kategori terkait fintech, yang terbaru agen laku pandai digital. Bagaimana BRI Institute mengembangkan kurikulum yang model bisnisnya terus berkembang?

Secara teori, membangun kurikulum ada dua faktor penting. Pertama, yang paling kasat mata adalah market needs. Industri bukan hanya sebagai pengundang lulusan karena tidak harus menjadi pegawai semua. Bisa saja dia penggiat bisnis. Market needs itu artinya industri membutuhkan seorang sarjana yang seperti apa? Untuk itu kami butuh kerja sama dengan Aftech dan asosisasi-asosiasi yang lain.

Kedua, technology development-nya. Kira-kira, lima hingga sepuluh tahun lagi teknologi di bidang itu akan seperti apa? Kurikulum harus dibangun berdasarkan dua faktor tadi. Untuk visi teknologi, kami menggandeng Massachusetts Institute of Technology (MIT), universitas di bidang teknologi yang terdepan. Dalam agreement signing November lalu, kami bersepakat saling sharing session. Apa yang pernah MIT lakukan di riset, kajian, studi, semua hasilnya bisa kami dapatkan.

Payung BRI Institute itu Bank BRI. Bagaimana kolaborasi dengan anak usaha atau unit bisnis BRI yang banyak, di mana posisi BRI Institute?

Bank BRI memiliki 60 divisi dan 30 lebih anak perusahaan yang bergerak di asuransi, properti, perhotelan, dan sebagainya. Kami dengan anak perusaahan sudah difasilitasi oleh Bank BRI menandatangani perjanjian dengan 24 anak perusahaan. Intinya, kami butuh partner.

Misalnya, sekitar tiga bulan lalu kami menggarap sekitar enam anak perusahaan untuk duduk sama-sama, di antaranya divisi retail dan digital. Kami, perguruan tinggi, tidak boleh membuat penelitian sendiri, asik sendiri.

Termasuk dengan BRI Venture yang akan membangun startup?

Iya. BRI merupakan salah satu bank yang terdepan untuk proses digitalisasi. Ada 18 divisi yang bicara soal IT, salah satunya BRI Venture yang ingin membuat start up. Kami tanya strategi mereka, yang dibutuhkan, knowledge yang diinginkan, dan sebagainya.

Kami akan mencari talent-talent dari siswa SMA yang baru lulus untuk masuk ke dunia itu. Jadi, posisi kami di tengah. Kami yang memberikan pengetahuan, bagian akhirnya mereka yang menjahit dan menggunakan.

Ke arah mana pengembangan startup fintech ini? Pembiayaan atau yang lainnya?

Kami tidak masuk ke sana. Misalkan akan ada sebuah start up yang bicara invesment. Mereka akan mempekerjakan orang, membangun sebuah aplikasi, atau yang lainnya. Untuk ini, kira-kira modal apa yang harus dia punya. Apakah untuk menganalisis pertumbuhan market, pendapatan keluarga, politik, dan seterusnya untuk menganalisa data. Berarti dia butuh data analysis, mahasiswa yang tahu mengenai metematika, matriks, dan sebagainya. Itu yang kami siapkan.

Fintech berkembang begitu pesat, salah satunya untuk memperluas inklusi keuangan. BRI juga arahnya ke sana. Apakah BRI Institute turut merancang peta jalannya?

Itu sebenarnya domain Bank BRI yang terus berupaya dan cukup berhasil dalam menerapkan teknologi dari ­end to end bisnisnya. Yang bisa saya sampaikan di mana kontribusi kami dalam road map Bank BRI dan kaitannya dengan fintech, digitalisasi.

Dari banyak divisi mereka sedang menyusun level. Kalau level entry itu ada di level sekian, kami akan menyiapkan mahasiswa semester satu mata kuliah yang mendukungnya, mulai dari penugasan dan sebagainya. Jadi, kami menerjemahkan level-level tadi ke mata kuliah. Kontribusi kami ada pada road map di proses akademik.

Sebagian besar generasi sekarang milenial. Menurut Anda, apa tantangan dan solusi bagi kelompok besar ini?

Mereka adalah generasi “instant”, semua ingin cepat, ingin dekat. Tim manajemen perguruan tinggi harus mampu menerjemahkan bagaimana metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Harus memberikan variasi pembelajaran. Tantangan tidak hanya dari mahasiswa, juga dari staf pengajar. Dosen harus adaptif terhadap perkembangan karena berpengaruh dengan perilaku sehari-hari.

Nanti, kami tidak hanya mengeluarkan ijazah dan transkrip, juga suplemen yang berisi tentang softskill. Misalnya terkait kreativitas, inisiatif, keberanian mengemukakan pendapat, integritas, kedisiplinan. Pada tahun terakhir saat magang kami akan menitipkan buku rapor pada industri untuk minta tolong diisi.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi – Dana Santoso Saroso” , https://katadata.co.id/opini/2020/01/01/kami-mencetak-generasi-yang-siap-menghadapi-disrupsi/1
Penulis: Dana Santoso Saroso
Editor: Muchamad Nafi