BRI Institute Umumkan 5 Penerima Beasiswa APERTI BUMN

BRI Institute Umumkan 5 Penerima Beasiswa APERTI BUMN

BRI Institute bersama dengan perguruan-perguruan tinggi yang tergabung di dalam Aliansi Perguruan Tinggi Badan Usaha Milik Negara (APERTI BUMN) mengumumkan 5 nama calon mahasiswa dan mahasiswi yang terpilih sebagai penerima Beasiswa APERTI BUMN 2020. Pengumuman dilakukan bersamaan pada hari Rabu, 22 Mei 2020 melalui pertemuan daring.

Selain BRI Institute, perguruan tinggi yang tergabung di APERTI BUMN adalah Telkom University, Universitas Pertamina, Institut Teknologi PLN, Universitas Internasional Semen Indonesia, Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia, Politeknik Pos Indonesia, dan Institut Teknologi Telkom Surabaya.

Proses pendaftaran dimulai pada tanggal 14 Mei 2020 lalu. BRI Institute sendiri menerima 9.145 orang pendaftar yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Kemudian, setelah dilakukan proses seleksi yang didasarkan oleh nilai rapor dan nilai UN, kandidat penerima beasiswa pun mengerucut menjadi 20 orang yang lolos ke tahap wawancara.

Karena terbatas oleh jarak dan pembatasan sosial di masa pandemi, maka wawancara terhadap 20 orang ini dilakukan secara daring pada tanggal 14-18 Juli 2020. Setelah mempelajari hasil wawancara dan dilakukan rapat internal, maka terpilihlah 5 orang sebagai penerima Beasiswa APERTI BUMN di BRI Institute sebagai berikut: Gregorius Peitra N. A., Enrica Natasha K., Adhitya Prameswara (Prodi Teknologi Bisnis Digital), Ghozi Faiz Febriano (Prodi Teknologi Informasi) dan Cornelia Antonieta D. C. (Prodi Sistem Informasi). Para penerima beasiswa berhak menerima total manfaat sebesar Rp 475 juta selama 4 tahun perkuliahan.

Syahra Larez, Mahasiswi Baru dan Brand Ambassador BRI Institute

Syahra Larez, Mahasiswi Baru dan Brand Ambassador BRI Institute

 

BRI Institute telah mencapai kesepakatan bekerja sama dengan Syahra Larez sebagai Brand Ambassador. Syahra sendiri adalah seorang pekerja seni yang sudah masuk ke dunia entertainment sejak kecil. Ia mendapatkan peran di berbagai serial televisi nasional, seperti Gober (RCTI), Mermaid in Love 2 Dunia (SCTV), Pengantin Dini (ANTV) dan lain-lain.

Walaupun ia telah memiliki kesibukan bekerja, mulai dari pengambilan gambar, pemotretan dan lain-lain, gadis kelahiran tahun 2002 ini tetap ingin melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Di dalam pencariannya mencari kampus, ia menemukan informasi tentang BRI Institute yang merupakan Perguruan Tinggi Swasta Fintech Pertama di Indonesia.

Karena tertarik dengan program perkuliahan yang ditawarkan oleh BRI Institute, Syahra pun mendaftarkan diri sebagai mahasiswi di Tahun Ajaran 2020/2021 yang akan dimulai pada bulan September mendatang.

Ke depannya, Syahra akan aktif di dalam perkuliahan di BRI Institute dan juga terus menjalani pekerjaannya di dunia seni. Dalam waktu dekat, Syahra juga akan berbagi cerita tentang kelebihan-kelebihan berkuliah di BRI Institute melalui akun Instagram resmi BRI Institute: @bri_institute.ac.id. Terus pantau akun tersebut untuk mengetahui info lebih lanjutnya!

BRI Institute Gandeng Anggota Aftech untuk Memberikan Masukan Terhadap Kurikulum

BRI Institute Gandeng Anggota Aftech untuk Memberikan Masukan Terhadap Kurikulum

Jakarta. 12/03/2020 . BRI Institute bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengadakan focus Group Discussion dengan Tema Fintech Talent Gap Challenges and Opportunities, kegiatan ini dihadiri oleh Ketua harian Aftech Ibu Mercy Simorangkir dan Direktur Eksekutif Komunikasi & Komunitas Aftech serta perwakilan 8 perusahaan fintech tanah air dari berbagai vertikal, selain dari sisi praktisi dalam kegiatan ini hadir juga dari pakar akademisi Prof Dr. Andi Adriansyah, M.Eng. kegiatan ini di laksanakan kamis,12 Maret 2020 di Gedung BRI 2, Lt. 29 Ruang Sriwijaya.Dalam diskusi ini dibahas tentang Fintech talent gap dan tantangan yang dihadapi bri institute dalam mengisi fintech talent gap tersebut, dalam acara ini setiap perusahaan fintech dari berbagai vertikal berdiskusi dan memberikan masukan untuk bri institute dalam penyempurnaan kurikulum sesuai dengan kebutuhan industri.

BRI Institute sebagai The 1st Fintech University in Indonesia terus berkomitmen untuk menjalin kerjasama dengan industri fintech dan berkontribusi untuk mengisi Fintech talent gap dengan cara terus mengupdate kurikulum sehingga sesuai dengan kebutuhan industri.

Dalam FGD ini Rekor BRI Institute Prof. Dana S. Saroso memperkenalkan program 3+1 atau Company Learning Program (CLP) kepada perusahaan Fintech. dimana mahasiswa 3 tahun melakukan masa perKuliah di kampus ditambah 1 tahun magang di BRI GROUP atau perusahaan Fintech yang sudah bekerjasama dengan BRI Institute. Dalam hal ini perusahaan fintech sangat menyambut baik program 3+1 dan bersedia menerima mahasiswa BRI Institute untuk melakukan magang di perusahaan fintech tersebut.

Gallery Foto

Juara Indonesia Predator League 2020 Diberikan Beasiswa BRI Institute

Juara Indonesia Predator League 2020 Diberikan Beasiswa BRI Institute

Pada akhir pekan ini, mal Kota Kasablanka menjadi lokasi pertandingan final dari kompetisi eSport Indonesia Predator League 2020 yang digelar Acer Indonesia. Selama dua hari pada 18-19 Januari 2020, ada 16 tim PUBG dan delapan tim DOTA 2 yang siap bertanding demi menjadi yang terbaik di Indonesia Predator League 2020. Menariknya, selain hadiah uang, juara di final kompetisi eSports ini juga disebut mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Beasiswa ini merupakan hasil kerjasama Acer Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Asosiasi Video Games Indonesia dengan BRI Institute. Di mana juara peringkat satu hingga empat di Indonesia Predator League 2020 akan diberikan full scholarship untuk menempuh pendidikan Strata 1 atau S1 di BRI Institute. Fasilitas beasiswa ini digadang-gadang sebagai yang pertama diberikan dalam kompetisi eSports di Tanah Air.

“Beasiswa ini diberikan kepada pemenang dan pemenangnya bisa memilih profesi apa yang mereka inginkan. Karena BRI Institute memberikan banyak pilihan profesi, lebih dari 60 profesi, itu bisa dipilih sesuai apa yang diinginkan oleh para juara. Jadi mereka diberikan kebebasan untuk memilih sesuai bakat dan kebutuhan mereka,” ujar Presiden Direktur Acer Indonesia Herbet Ang pada Media Day Indonesia Final Predator League 2020 di Mal Kokas, Jalan Casablanca, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan (17/1/2020).

Penjelasan lebih lanjut mengenai beasiswa ini juga sempat dipaparkan Rektor BRI Institute Prof. Ir. Dana S. Saroso, MengSc., Ph.D kepada PingPoint.co.id. Ia menjelaskan, perguruan tingginya berfokus di bidang teknologi informasi dan memandang terdapat potensi bakat dari para atlet eSports yang bila diarahkan melalui pendidikan formal maka dapat diterapkan ke berbagai profesi di bidang teknologi mengingat mereka sudah memiliki beragam insight mengenal dunia digital dari video games yang mereka geluti.

“Kita bicaranya talent, bukan lagi bicara kemampuan akademis. Jadi makanya di BRI Institute itu kuliahnya tiga tahun, setahunnya magang untuk mengasah talent,” ujarnya. Menurut Prof. Dana, dari hal-hal sederhana seperti menghadapi tantangan dan mengambil keputusan dengan cepat ketika berkompetisi di dunia digital, hingga kemampuan mata untuk melihat pergerakan karakter dalam animasi games untuk memprediksi langkah selanjutnya dalam pertandingan eSports menjadi bagian dari talent para atlet eSports.

Ia menambahkan, beasiswa ini juga penting untuk para pemenang dari kompetisi Indonesia Predator League 2020. Mengingat dengan seiring berjalannya waktu, para gamer dan atlet eSports juga membutuhkan profesi lain untuk menunjang kehidupan mereka kelak nanti. “Mempersiapkan (momen) itu, kami bantu memberikan profesinya,” pungkasnya.

Sumber : https://pingpoint.co.id/berita/juara-indonesia-predator-league-2020-diberikan-beasiswa-bri-institute/

BRI Institute  Bekerja Sama dengan BRI Kantor Cabang Tangerang A. Yani (BRITANIA) Menyalurkan Bantuan Banjir Tangerang

BRI Institute Bekerja Sama dengan BRI Kantor Cabang Tangerang A. Yani (BRITANIA) Menyalurkan Bantuan Banjir Tangerang

Tangerang – Selasa (7 Januari 2020) satu pekan berlalu hujan deras mengguyur wilayah Jabodetabek. Bencana banjir tersebut membawa dampak rusaknya rumah pemukiman warga, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana umum dan lain-lain. Tentunya menjadi perhatian kami, untuk bergerak dan membantu saudara kita yang mengalami bencana. Ada 3 wilayah yang menjadi tempat perhatian kami menyalurkan bantuan bencana banjir yaitu : Wilayah Kelurahan Mekarsari, Pabuaran Tumpeng dan Nambo Jaya, Tangerang, Banten.

Tim relawan BRI Institute yang diprakasai oleh Ketua LPPM BRI Institute, Bapak Effendi Hidayat, SE, MM bersama dosen dan mahasiswa ikut terlibat dan langsung bergerak ke wilayah Tangerang, Banten. Aksi penyaluran bantuan banjir ini pun didukung oleh rekan-rekan dari Bank BRI Kantor Cabang Tangerang A. Yani (BRITANIA) yang dikomandokan oleh Bapak Eka sebagai Pemimpin Cabang.

Dua sampai Tiga armada Tim Relawan dan Tim Logistik menyambangi dan memberikan bantuan secara langsung ke tempat pertama, Kelurahan Mekarsari. Kedatangan kami disambut dengan baik oleh aparatur Kelurahan, Polisi dan TNI. Bekerja sama dengan aparatur kelurahan, tim relawan BRI Institute, BRITANIA dan warga setempat secara estafet bantuan berupa sembako, obat-obatan, air mineral, peralatan kebersihan dan lain-lainnya. Kemudian, Tim relawan bersama aparatur kelurahan meninjau langsung dampak rumah warga yang terparah terendam banjir di wilayah Kelurahan Mekarsari.

“Air datang secara langsung dari sungai, dan air pun dengan cepat naik perlahan yang tadinya semata kaki hingga satu dada orang dewasa, Pak. Rumah kami tenggelam, barang tidak bisa diselamatkan. Kami hanya mengungsi di posko selama 2 hari hingga surut, Pak.” Tutor Ibu warga.

Gambar 1 Bekerja Sama Menyalurkan Bantuan di Kelurahan Mekarsari

Gambar 2 Foto bersama dengan Aparatur Kelurahan

Kemudian, kami bergerak menyambangi ke Kelurahan Pabuaran Tumpeng sebagai lokasi ke-2 dampak bencana banjir. Tim relawan disambut dengan baik oleh Aparatur Kelurahan. Tutor seorang aparatur kelurahan bercerita bahwa air dengan cepat naik sampai satu dada orang dewasa hingga beberapa pemukiman warga ada yang tenggelam, sarana Pendidikan, kesehatan kena dampaknya juga. Warga pun mengungsi diposko lantai 2 kelurahan tutor salah satu aparatur Kelurahan Pabuaran Tumpeng. Warga pun tidak sempat untuk menyelamatkan barang miliknya.

Bantuan bencana disalurkan secara estafet dikarenakan sulitnya mobil tim logistic masuk ke area lobby kelurahan pabuaran tumpeng yang dilakukan secara bekerja sama dengan aparatur kelurahan, warga dan tim relawan BRI Institute-BRITANIA.

“yang kami butuhkan yaitu makanan, pakaian dan tempat istirahat nyaman. Karena kami tidak sempat menyelamatkan barang miliki kami”. Seorang Warga bercerita ke dosen bri institute.

Gambar 3 Menyalurkan bantuan

Gambar 4 Foto bersama aparatur kelurahan pabuaran bersama Tim BRI Institute – BRITANIA

Kelurahan Nambo Jaya menjadi wilayah ketiga yang kami sambangi. Pemandangan di area kelurahan Nambo Jaya terlihat kendaraan motor dan mobil diparkir secara berjajar yang merupakan akibat terendam banjir. Disekeliling area kelurahan, rumah warga banyak yang terendam dan jejak banjir pun terlihat jelas se-dada orang dewasa. Kedatangan kami disambut oleh banyak warga, satuan keamanan kelurahan, dan aparatur kelurahan.

Mobil logistik kami tidak dapat masuk ke area lobby kelurahan sehingga bantuan yang kami berikan secara estafet dan bersama-sama dengan warga, aparatur kelurahan, tim relawan BRI Institute dan BRITANIA. Salah satu pengurus kelurahan menceritakan bahwa kelurahan ini selalu menjadi langganan banjir apabila hujan deras mengguyur, namun banjir diawal tahun 2020 ini sangat berbeda. Air dengan cepat menaik hingga setengah pintu. Area kelurahan nambo jaya ini pun area konsturnya tinggi. Tentunya rumah pemukiman warga pun terendam banjir.

Hingga saat ini kelurahan bersama elemen masyarakat terus gotong royong membersihkan lingkungan dampak banjir.

Gambar 5 Menyalurkan bantuan bersama-sama

Gambar 6 Foto bersama tim BRI Institute, BRITANIA (Bapak Eka) dan aparatur kelurahan nambo jaya

Nambo jaya, menjadi penutup rangkaian kegiatan penyaluran bencana banjir. Kami pun berpamitan kepada elemen masyarakat kelurahan nambo jaya serta berterima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Eka sebagai Pimpinan Cabang BRI Tangerang A Yani (BRITANIA). Perjalanan pulang kami, hujan ringan mengguyur daerah Tangerang.

Sampai di BRI Institute, kami disambut oleh Bapak Rektor (Prof Dana S. Saroso), Wakil Rektor 2 (M. Sodo Harisetyanto, SE, Ak., MBA., CWM., CRGP) dan Kabag Akademik & Kemahasiswaan ( R. Hendra Netra, SH., MM., MKn., QIA) yang telah melaksanakan tugas mulia.

Gambar 7 Disambut pulang di BRI Institute

Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi

Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi

“Disrupsi yang terjadi di IT menyangkut berbagai bisnis proses di semua industri. Tidak hanya di produksi atau manufaktur, juga kepada automasi finansial.”

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat berdampak sangat luas hampir ke semua industri. Selain memberi efek positif, disrupsi pun tak terlekan, termasuk di sektor keuangan dan perbankan. Sejumlah perusahaan keuangan dunia melaporkan pemangkasan karyawan besar-besaran secara bertahap dalam beberapa tahun.

Melihat hal tersebut, BRI Institute menyiapkan lulusannya mampu menghadapi dampak disrupsi tersebut. Karena itu, walau kampus ini menyandang nama besar BRI, kurikulum yang dikembangkan tidak semata soal keuangan dan perbankan. Bahkan, separuh lebih mata kuliah yang ditawarkan terkait informasi dan teknologi (IT).

Bukan hanya imporvisasi kurikulum agar klop dengan kebutuhanan bisnis yang terus berubah, BRI Institute juga mewajibkan satu tahun magang bagi para mahasiswa untuk merasakan dunia kerja di industri. Ditemani minuman dingin segar, berikut ini wawancara lengkap dengan lelaki 58 tahun itu di salah satu sudut Perpustakaan BRI Institute yang penuh nuansa kekinian.

Pertengahan bulan lalu ada perubahan di BRI Institute menjadi kampus fintech. Apa yang melatarbelakanginya?

Kami punya enam program studi, lima di antaranya dengan platform kurikulum teknologi informasi (IT). Satu lagi terkait enterpreneurship. Dewasa ini, tidak ada satu pun industri yang tanpa tersentuh teknologi, khususnya teknologi digital. Mungkin 10-15 tahun ke depan, SDM-SDM yang seharusnya kita miliki adalah yang terbesit terhadap teknologi informasi.

Oleh karena itu, Bank BRI, dengan sejarahnya 124 tahun, memiliki data, jaringan, dan semua pengalaman dari sisi microfinance. Kami punya platform IT, memfokuskan kurikulum untuk menyiapkan para insinyur fintech.

Fintech cakupannya luas, tidak hanya berkaitan dengan bayar-membayar. Segala macam aktivitas yang berkaitan dengan transaksi finansial akan tersentuh oleh teknologi atau isu fintech, sehingga kami mencanangkan sebagai fintech university.

Apa ada paradigma baru dari kurikulum sebelumnya yang mungkin fokus ke perbankan kemudian mengkawinkannya dengan IT menjadi sebuah pengetahuan baru?

BRI Institute memang perguruan tinggi swasta yang dimiliki oleh Bank BRI, tapi kami bukan banking school. Lulusan kami bisa bekerja di perbankan atau non-bank. Yang pasti, mereka kami bekali pengetahuan dan pengalaman mengenai IT yang implementasinya di semua jenis industri.

Disrupsi yang terjadi di IT menyangkut berbagai bisnis proses di semua industri. Tidak hanya di produksi atau manufaktur, juga kepada otomasi finansial. Karena itu, kami mendesain kurikulum yang siap menghasilkan lulusan ke dunia industri yang berbau teknologi dan finansial. Kami membekali mahasiswa 60 % mengenai IT yang bisa masuk ke asuransi, keuangan, syariah, perbankan, dan sebagainya.

Dengan program perkuliahan tersebut, lulusan BRI Institute sudah siap menghadapi disrupsi, termasuk di sektor perbankan?

Untuk itu kami berkolaborasi dengan industri-industri dari fintech. Contohnya, kami sudah menandatangani kerja sama dengan Aftech (Asosiasi Fintech Indonesia). Di dalam Aftech lebih dari 300 perusahaan yang sifatnya investment. Ada yang traveling, hospitality, sampai ke industri-industri produksi lainnya.

Kami menghasilkan lulusan yang akan dimanfaatkan dalam industri tersebut. Kami mengajak mereka menjahit kurikulum, yang sesuai peraturan pendidikan tinggi hingga empat tahun. Mahasiswa kuliah tiga tahun di kami. Nanti satu tahun mereka internship di industri. Sehingga, para mahasiswa akan merasakan apa yang terjadi di industri, punya pengalaman.

Apa ini  salah satu kata kunci untuk menjawab problem lulusan kampus yang sering dikemukakan banyak pihak yakni link and match antara perguruan tinggi dan industri?

Sebenarnya, konsep link and match sudah lama di-sounding-kan kepada kami di kalangan perguruan tinggi. Barangkali kemarin industri dan perguruan tinggi punya kesibukan masing-masing sehingga tidak pernah duduk bareng mencari solusi bersama.

Industri pasti sudah tersita waktunya dengan aktivitas bisnisnya, sehingga kami yang harus merangkul, bertanya, diskusi, mengajak mereka menjahit bareng. Apalagi banyak yang mengatakan bahwa gelar sarjana belum menjadi jaminan. Itu berarti problem bersama. Mari cari solusinya. Karena pada akhirnya, kebutuhan akan kualitas lulusan, kompetensinya, yang menggunakan yaitu dunia usaha.

Di BRI Institute ada prodi yang spesifik langsung ke perbankan, syariah, mikro, insurance. Ada pula fintech pembayaran yang belum diambil. Kenapa berfokus ke sana?

Kenapa kami memilih micro finance dan sebagainya? Bank BRI punya pengalaman di situ, memiliki jaringan, data, sehingga punya kekuatan. Bank BRI tentu harus memperkuat posisi tersebut. Dengan teknologi digital, kami harus melahirkan orang-orang muda yang tahu micro finance, juga fasih terhadap IT. Maka dibentuklah IT dengan major di micro finance.

Untuk Syariah, kita tahu banyak konteks di dunia ini dan negara yang mayoritas bukan muslim mulai melirik syariah. Bukan hanya di bank syariah, juga traveling syariah, rumah sakit syariah, dan sebagainya. Pertumbuhan syariah akan terus naik.

Apalagi wakil presiden sekarang representatif kuat dari kalangan muslim. Kemungkinan besar perbankan syariah akan semakin bergaung?

Sekali lagi, kami mengklaim we are not a banking school. Syariah dalam konteks di sini adalah syariah as a islamic economic system, bukan bank syariah. Definisi syariah tidak langsung diekuivalen dengan bank syariah. Syariah bisa masuk ke berragam industri: travel, rumah sakit, hotel, pembiayaan konstruksi, produksi, dan sebagainya. Trennya menunjukkan ke sana.

Bila membandingkan dengan Tiongkok, kita agak jauh tertinggal, walaupun di sana juga mempunyai masalah, banyak yang berkembang kemudian tak sedikit yang tumbang. Menurut Anda, bagaimana perkembangan fintech di Indonesia?

Sekarang, di industri bukan lagi bicara lokasi, size dari pabrik, kemudian jumlah distributor, karyawan, armada, dan sebagainya. Karena ada teknologi digital, maka yang dilihat seberapa besar komunitas yang bisa dikembangkan dan dibangun dari industri tersebut.

Bahasa sederhananya mungkin berapa banyak followers-nya? Indonesia adalah market yang bisa diakses oleh siapa pun, dari manapun, dengan cara cepat. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, potensi industri fintech juga besar. Bukan berarti bahwa harus fintech, tapi industri tertentu yang ada sentuhan fintech-nya. Pasti akan banyak pelaku dari industri luar melirik Indonesia.

Zaman dulu, kalau barang kita belum masuk Amerika jangan berharap dunia akan tahu. Tapi hari ini, mungkin tidak mesti semua dijual di Amerika untuk masuk ke seluruh dunia. Itu sebuah kesempatan dan tantangan. Sehingga kami sebagai pelaku di bidang pendidikan merasa harus bertanggung jawab. Kami punya peran dalam menyiapkan anak mudah yang sanggup menghadapi perubahan tadi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru merumuskan 15 kategori terkait fintech, yang terbaru agen laku pandai digital. Bagaimana BRI Institute mengembangkan kurikulum yang model bisnisnya terus berkembang?

Secara teori, membangun kurikulum ada dua faktor penting. Pertama, yang paling kasat mata adalah market needs. Industri bukan hanya sebagai pengundang lulusan karena tidak harus menjadi pegawai semua. Bisa saja dia penggiat bisnis. Market needs itu artinya industri membutuhkan seorang sarjana yang seperti apa? Untuk itu kami butuh kerja sama dengan Aftech dan asosisasi-asosiasi yang lain.

Kedua, technology development-nya. Kira-kira, lima hingga sepuluh tahun lagi teknologi di bidang itu akan seperti apa? Kurikulum harus dibangun berdasarkan dua faktor tadi. Untuk visi teknologi, kami menggandeng Massachusetts Institute of Technology (MIT), universitas di bidang teknologi yang terdepan. Dalam agreement signing November lalu, kami bersepakat saling sharing session. Apa yang pernah MIT lakukan di riset, kajian, studi, semua hasilnya bisa kami dapatkan.

Payung BRI Institute itu Bank BRI. Bagaimana kolaborasi dengan anak usaha atau unit bisnis BRI yang banyak, di mana posisi BRI Institute?

Bank BRI memiliki 60 divisi dan 30 lebih anak perusahaan yang bergerak di asuransi, properti, perhotelan, dan sebagainya. Kami dengan anak perusaahan sudah difasilitasi oleh Bank BRI menandatangani perjanjian dengan 24 anak perusahaan. Intinya, kami butuh partner.

Misalnya, sekitar tiga bulan lalu kami menggarap sekitar enam anak perusahaan untuk duduk sama-sama, di antaranya divisi retail dan digital. Kami, perguruan tinggi, tidak boleh membuat penelitian sendiri, asik sendiri.

Termasuk dengan BRI Venture yang akan membangun startup?

Iya. BRI merupakan salah satu bank yang terdepan untuk proses digitalisasi. Ada 18 divisi yang bicara soal IT, salah satunya BRI Venture yang ingin membuat start up. Kami tanya strategi mereka, yang dibutuhkan, knowledge yang diinginkan, dan sebagainya.

Kami akan mencari talent-talent dari siswa SMA yang baru lulus untuk masuk ke dunia itu. Jadi, posisi kami di tengah. Kami yang memberikan pengetahuan, bagian akhirnya mereka yang menjahit dan menggunakan.

Ke arah mana pengembangan startup fintech ini? Pembiayaan atau yang lainnya?

Kami tidak masuk ke sana. Misalkan akan ada sebuah start up yang bicara invesment. Mereka akan mempekerjakan orang, membangun sebuah aplikasi, atau yang lainnya. Untuk ini, kira-kira modal apa yang harus dia punya. Apakah untuk menganalisis pertumbuhan market, pendapatan keluarga, politik, dan seterusnya untuk menganalisa data. Berarti dia butuh data analysis, mahasiswa yang tahu mengenai metematika, matriks, dan sebagainya. Itu yang kami siapkan.

Fintech berkembang begitu pesat, salah satunya untuk memperluas inklusi keuangan. BRI juga arahnya ke sana. Apakah BRI Institute turut merancang peta jalannya?

Itu sebenarnya domain Bank BRI yang terus berupaya dan cukup berhasil dalam menerapkan teknologi dari ­end to end bisnisnya. Yang bisa saya sampaikan di mana kontribusi kami dalam road map Bank BRI dan kaitannya dengan fintech, digitalisasi.

Dari banyak divisi mereka sedang menyusun level. Kalau level entry itu ada di level sekian, kami akan menyiapkan mahasiswa semester satu mata kuliah yang mendukungnya, mulai dari penugasan dan sebagainya. Jadi, kami menerjemahkan level-level tadi ke mata kuliah. Kontribusi kami ada pada road map di proses akademik.

Sebagian besar generasi sekarang milenial. Menurut Anda, apa tantangan dan solusi bagi kelompok besar ini?

Mereka adalah generasi “instant”, semua ingin cepat, ingin dekat. Tim manajemen perguruan tinggi harus mampu menerjemahkan bagaimana metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Harus memberikan variasi pembelajaran. Tantangan tidak hanya dari mahasiswa, juga dari staf pengajar. Dosen harus adaptif terhadap perkembangan karena berpengaruh dengan perilaku sehari-hari.

Nanti, kami tidak hanya mengeluarkan ijazah dan transkrip, juga suplemen yang berisi tentang softskill. Misalnya terkait kreativitas, inisiatif, keberanian mengemukakan pendapat, integritas, kedisiplinan. Pada tahun terakhir saat magang kami akan menitipkan buku rapor pada industri untuk minta tolong diisi.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi – Dana Santoso Saroso” , https://katadata.co.id/opini/2020/01/01/kami-mencetak-generasi-yang-siap-menghadapi-disrupsi/1
Penulis: Dana Santoso Saroso
Editor: Muchamad Nafi